DEPAG membidani pertemuan guru PAK DKI
Tanggal 2 sampai 4 Mei 2009 ada sekitar 35 guru agama Katolik di sekitar DKI mengadakan pertemuan di WIsma Kinasih - Remboken Cimanggis Depok - Bogor.
Pertemuan dengan tema Pembinaan Guru-Guru Agama Katolik itu diprakarsai oleh Departemen Agama DKI, yang berperan sebagai pengundang adalah Bapak Drs. AH. Yuniadi, MM.
Hari Pertama, 2 Mei 2009
Bertepatan dengan UAS kursus bahasa Inggris, tanggal 2 Mei 2009 aku harus mengikuti pertemuan guru-guru Agama Katolik se-DKI Jakarta. Aku berangkat pukul 11.00 dengan perjalanan lancar, sedikit pelan karena sambil mencari lokasi pertemuan, akhirnya aku sampai di Wisma Remboken jam 13.00. Baru 2 orang yang datang. Aku beristirahat, sambil menunggu teman yang lain. Di situlah aku bertemu dengan kakak tingkat dulu waktu aku kuliah di Fakultas Filsafat UNIKA St. Thomas Sumatera Utara, Victor Halomoan Habeahan. Nampak cekung wajahnya, menampakkan keaslian orang Batak.
Kegiatan hari pertama dimulai jam 16.30 dengan pembukaan resmi oleh Pak Yuni, dengan berseragam batik asli kahs Indonesia. Kami sempat photo bersama. Acara setelah makan malam adalah sajian dari sekjen Kanwil Depag DKI, Bapak Antonius.
Malam itu sekaligus dibentuk 4 kelompok untuk kelancaran tugas doa dan diskusi. Acara malam ditutup dengan doa oleh kelompok I.
Hari Kedua, 3 Mei 2009
Minggu pagi ini kami bangun jam 06.00. Setelah doa dan sarapan pagi, acara diisi oleh Pak Yuni dengan isi Sosialisasi Sertifikasi Guru Agama. Banyak hal yang kami dapatkan berkaitan dengan sertifikasi ini. Acara selesai sampai siang dan diakhiri dengan makan siang bersama.
Acara sore mulai pukul 16.30 dengan diskusi kelompok, dengan menjawab tiga pertanyaan: 1. tentang kendala-kendala yang dialami sebagai guru agama, 2. tentang kemudahan yang didapat sebagai guru agama, dan 3. tentang saran, usul, masukan bagi DEPAG.
Acara selanjutnya adalah misa dipimpin oleh Rm. Hardijantan Dermawan dari KAJ dilanjutkan dengan makan bersama. Setelah makan bersama kegiatan diisi oleh penyajian Rm. HArdi berkaitan Kebijakan Pastoral KAJ terhadap Guru Agama Katolik.
Acara malam itu ditutup dengan doa.
Hari ketiga, 4 Mei 2009
Minggu pagi ini kami bangun jam 06.30. Setelah doa dan sarapan pagi, acara diisi oleh Rm. Driyanto dari KeBo (Keuskupan Bogor) mantan dosen saya dulu di Seminari Menengah Stella Maris - Bogor. Penyajian perkenalan dari Rm. Dri menarik sehingga waktu yang ditetapkan dimakan lumat lebih 30 menit, sehingga acara snack molor. Acara dilanjutkan dengan isi tetang Panggilan Sebagai Guru Agama Katolik. Guru Agama Katolik menurut Romo Dri merupakan ujung tombak pewartaan terhadap umat. Mengapa ujung tombak? Karena guru agama tinggal di tengah masyarakat yang majemuk dan hiterogen, namun tetap dapat memfusi dan masuk pelan-pelan sambil mewartakan Injil melalui kehidupan sehari-hari. Sedangkan kaum klerus dan orang yang mengabdikan diri pada Gereja (Lembaga Hidup Bakti = para suster/bruder) tidak dengan mudah bisa mewartakan imannya di tengah masyarakat hiterogen. Rm. Dri memberikan contoh sebuah kasus : ada seorang suster dengan berpakaian jubah mendirikan tempat kursus (menjahit dan memasak) di sebuah desa di Bogor. Banyak orang yang datang, karena memang berminat. Namun, lama-kelamaan karena masyarakat sekitar tahu bahwa suster itu seorang kristen, suster itu diusir dan tidak boleh tinggal di desa itu dengan dalih pengkristenan.
Hal yang menarik. Kaum awam, guru agama tetap tinggal di tengah masyarakat, namun tetap memberi kesaksian hidup kristiani. Lalu, yang menjadi "pastor" sebenarnya ini apakah pastor yang tinggal di pastoran atau awan sebagai guru agama Katolik?
Refleksi hidup untuk kita:
Mantapkanlah hidupmu sebagau Guru Agama Katolik. Yakinlah bahwa yang Anda buat itu suatu yang baru dan inovatif. Mantap dan banggalah sebagai guru agama Katolik, karena tidak semua umat awam Katolik tidak bisa untuk itu.
Acara ditutup dengan perayaan ekaristi. Dan terakhir adalah makan siang.
Pertemuan berlangsung lancar dan pulang jam 14.00 hari Senin tanggal 4 Mei 2009.
Rabu, 06 Mei 2009
PERNIKAHAN 25 APRIL 2009
Pernikahan adikku, Rini
Setiap orang sejak lahir telah memiliki hak. Hak itu biasanya lebih dikenal dengan istilah Hak Asasi Manusia. Hak asasi itu tak seorangpun berhak mengambil, apalagi merampasnya. Hak itu misalnya : hak untuk hidup (sehingga tak seorang pun boleh menggugurkan kandungan/aborsi), hak mendapatkan pekerjaan yang layak, hak untuk mendapat perlindungan hukum, hak mendapat pendidikan, hak akan kasih sayang dari orang tua, dan lebih-lebih hak untuk menikah dan hak untuk tidak menikah (selibat), sehingga tak seorang pun berhak untuk memaksa seseorang untuk menikah atau tidak menikah.
Adikku akan menikah tanggal 25 April 2009. Hari Selasa sebelumnya aku dan istriku sore-sore dengan diiringi hujan yang lebat berangkat dari rumah dengan tujuan Bekasi Timur, pol bus Rosalia Indah. Namun, apa yang terjadi dan sangat disayangkan loket bus sudah tutup. Akhirnya kami ke pol bus Maju LaAncar, di depan BTC BeEkasi Timur. Langsung saja aku pesan satu tiket untuk pulang ke Wonosari, dengan harga 1 tiket AC PATAS Rp 115.000,00.
Tibalah hari Jum'at, tanggal 24 April 2009. Aku meliburkan diri dari tugas sekolah. Dari pagi kupersiapkan. Siangnya dengan diantar temanku Willy aku pergi ke pol bus Maju Lancar. Bus datang jam 14.30, bukan patas tetapi AC Eksekutif. Oleh sopirnya aku dirayu nih... agar aku ikut busnya, lalu kutanya nomor berapa? Aku diberi nomor 10, dibagian kiri. Oke lah. Dengan syarat menambah Rp 10.000,00. Kami sepakat. Sebelum naik aku mengecek karcis. Jam 16.00 bus baru berangkat. Lewat tol Timur masuk tol Cikampek, ikut jalan Pantura dan sampai kira-kira jam 19.00 sampai di rumah makan.
Istirahat pertama bus di Pamanukan. Aku makan nasi rames, karena hanya berbekal air minum, biskuit, dan beberapa butir buah salak. Istirahat kedua di rumah makan Jakarta - Karanganyar - Kebumen, jam 00.30. Bekal inipun awet sampai di Gading Wonosari.
Pagi itu aku sampai di Gading jam 05.00. Dengan mengojek salah seorang teman yang kukenal, akhirnya sampailah aku di rumah. Di rumah sudah banyak orang, dan sudah pada bangun, karena bersiap-siap untuk perayaan ekaristi. Untuk pertama kalinya aku berjumpa dengan Pak Lik Musdi. Berjumpa pula dengan keluarga besar Charli dari Tanjung Priok - Jakarta.
Pagi pukul 08.00 aku telepon nduk Prima di Lampung. Ibu pun sempat erbincang dengan bapak di Lampung. Kami semua bersiap-siap untuk berangkat ke gereja St. Yusup Bandung dengan menggunakan tiga mobil. Perjalanan lancar, sampai di gereja. Lalu tidak lama kemudian misa dimulai dengan dipimpin oleh Rm. Yuni.
Perjalanan dari gereja pun lancar dan sampai di rumah sudah hadir bebrapa tamu yang akan menyambut pengantin. Rini dan Charli sudah resmi menjadi suami istri dan keluarga yang baru.
Aku mesti menginap satu malam di rumah Wonosari. Hari minggu aku siap-siap dengan Agung dan Ning untuk kembali ke Bekasi, dengan membeli tiket bus Rosalia Indah @ Rp 135.000,00. Singkat kata kami sudah menunggu bus di Gading. Perjalanan melalui ring road selatan, terminal bus Giwangan - Jogja, ring road barat, bahkan sampai di terminal Jombor, lalu tembus di termial Purworejo. Bus istirahat di rumah maka Lestari Karang anyar - Kebumen. Mendapat makan gratis alias dibelikan oleh pihak bus dengan uang sendiri dari penumpang.
Sampai di jalan Pantura lalu lintas padat, macet disebabkan oleh jalan yang sedang diperbaiki. Sampai di pol bus di Bekasi Timur pukul 04.30, langsung saja aku panggil seorang ojek untuk mengantar aku pulang. Sepakat dengan harga Rp 25.000. Namun perjalanan ojek kira-kira hanya 10 menit aku diantar sampai di rumah. Akhirnya tukang ojek kukasih Rp 30.000,00. Langsung saja kau bongkar-bongkar tas, lalu mandi tanpa saraan segera berangkat ke sekolah dengan istriku.
Perjalanan hidup manusia merupakan sebuah peziarahan.
Setiap orang sejak lahir telah memiliki hak. Hak itu biasanya lebih dikenal dengan istilah Hak Asasi Manusia. Hak asasi itu tak seorangpun berhak mengambil, apalagi merampasnya. Hak itu misalnya : hak untuk hidup (sehingga tak seorang pun boleh menggugurkan kandungan/aborsi), hak mendapatkan pekerjaan yang layak, hak untuk mendapat perlindungan hukum, hak mendapat pendidikan, hak akan kasih sayang dari orang tua, dan lebih-lebih hak untuk menikah dan hak untuk tidak menikah (selibat), sehingga tak seorang pun berhak untuk memaksa seseorang untuk menikah atau tidak menikah.
Adikku akan menikah tanggal 25 April 2009. Hari Selasa sebelumnya aku dan istriku sore-sore dengan diiringi hujan yang lebat berangkat dari rumah dengan tujuan Bekasi Timur, pol bus Rosalia Indah. Namun, apa yang terjadi dan sangat disayangkan loket bus sudah tutup. Akhirnya kami ke pol bus Maju LaAncar, di depan BTC BeEkasi Timur. Langsung saja aku pesan satu tiket untuk pulang ke Wonosari, dengan harga 1 tiket AC PATAS Rp 115.000,00.
Tibalah hari Jum'at, tanggal 24 April 2009. Aku meliburkan diri dari tugas sekolah. Dari pagi kupersiapkan. Siangnya dengan diantar temanku Willy aku pergi ke pol bus Maju Lancar. Bus datang jam 14.30, bukan patas tetapi AC Eksekutif. Oleh sopirnya aku dirayu nih... agar aku ikut busnya, lalu kutanya nomor berapa? Aku diberi nomor 10, dibagian kiri. Oke lah. Dengan syarat menambah Rp 10.000,00. Kami sepakat. Sebelum naik aku mengecek karcis. Jam 16.00 bus baru berangkat. Lewat tol Timur masuk tol Cikampek, ikut jalan Pantura dan sampai kira-kira jam 19.00 sampai di rumah makan.
Istirahat pertama bus di Pamanukan. Aku makan nasi rames, karena hanya berbekal air minum, biskuit, dan beberapa butir buah salak. Istirahat kedua di rumah makan Jakarta - Karanganyar - Kebumen, jam 00.30. Bekal inipun awet sampai di Gading Wonosari.
Pagi itu aku sampai di Gading jam 05.00. Dengan mengojek salah seorang teman yang kukenal, akhirnya sampailah aku di rumah. Di rumah sudah banyak orang, dan sudah pada bangun, karena bersiap-siap untuk perayaan ekaristi. Untuk pertama kalinya aku berjumpa dengan Pak Lik Musdi. Berjumpa pula dengan keluarga besar Charli dari Tanjung Priok - Jakarta.
Pagi pukul 08.00 aku telepon nduk Prima di Lampung. Ibu pun sempat erbincang dengan bapak di Lampung. Kami semua bersiap-siap untuk berangkat ke gereja St. Yusup Bandung dengan menggunakan tiga mobil. Perjalanan lancar, sampai di gereja. Lalu tidak lama kemudian misa dimulai dengan dipimpin oleh Rm. Yuni.
Perjalanan dari gereja pun lancar dan sampai di rumah sudah hadir bebrapa tamu yang akan menyambut pengantin. Rini dan Charli sudah resmi menjadi suami istri dan keluarga yang baru.
Aku mesti menginap satu malam di rumah Wonosari. Hari minggu aku siap-siap dengan Agung dan Ning untuk kembali ke Bekasi, dengan membeli tiket bus Rosalia Indah @ Rp 135.000,00. Singkat kata kami sudah menunggu bus di Gading. Perjalanan melalui ring road selatan, terminal bus Giwangan - Jogja, ring road barat, bahkan sampai di terminal Jombor, lalu tembus di termial Purworejo. Bus istirahat di rumah maka Lestari Karang anyar - Kebumen. Mendapat makan gratis alias dibelikan oleh pihak bus dengan uang sendiri dari penumpang.
Sampai di jalan Pantura lalu lintas padat, macet disebabkan oleh jalan yang sedang diperbaiki. Sampai di pol bus di Bekasi Timur pukul 04.30, langsung saja aku panggil seorang ojek untuk mengantar aku pulang. Sepakat dengan harga Rp 25.000. Namun perjalanan ojek kira-kira hanya 10 menit aku diantar sampai di rumah. Akhirnya tukang ojek kukasih Rp 30.000,00. Langsung saja kau bongkar-bongkar tas, lalu mandi tanpa saraan segera berangkat ke sekolah dengan istriku.
Perjalanan hidup manusia merupakan sebuah peziarahan.
RETRET KELAS V SD ASISI
RETRET KELAS V SD ASISI
Perjalanan hidup manusia merupakan sebuah peziarahan, bila dilihat dari sudut iman kristiani. Perjalanan manusia yang dilaksanakan sebagai sebuah rutinitas memerlukan sebuah etape atau stasi untuk berhenti dari aktivitas semula. Ibarat mengadakan seminar kita perlu break time. Atau dalam berdiskusi kita memerlukan adanya termin, jeda waktu untuk menghela nafas sejenak, istirahat dari kejenuhan aau rasa capai yang mendera. Sebagaimana halnya agenda tahunan Sekolah Dasar Asisi, maka bulan April 2009 ini secara berturut-turut selama 3 minggu aku relay-tour untuk tugas sekolah. 2 kali minggu untuk sekolah 1 minggu untuk keluarga.
Tanggal 18 sampai 20 April 2009 aku bersama Pak Gito dan Bu Tini mendampingi anak untuk menjalani retret selama 3 hari di Wisma Retret Canossa Bintaro. Pengalaman baru bagiku. Pendampingan anak-anak sebanyak 37 anak tidaklah sesederhana kalau kita pernah hidup di asrama yang nota bene seminari. Anaka-anak ini belum tahu artinya tertib, hening atau disiplin, artinya menempatkan waktu sesuai dengan porsinya.
Perjalanan dari SD Asisi lancar sampai di Canossa, dengan diantar oleh sopir yang menyetir sebuah bus. Perjalanan dari Tebet langsung masuk Tol Tebet, melalui Pancoran. Sampai Cawang bus langsung masuk jalur tol Jagorawi, dengan mengambil jalur tol TB Simatupang. Sesampai di gerbang tol Pondok Aren bus keluar tol. Rupanya sang sopir sudah hafal dengan rute tersebut.
Kami serombongan diterima oleh suster pengelola rumah retret. Selanjutnya pembagian kamar yang sudah dibagi pihak rumah retret. Perjalanan sedemikian lancar. Banyak permainan yang diberikan, banyak pengetahuan untuk melatih kerja sama di antara para siswa SD, khususnya waktu outbond.
Hari kedua, hari Minggu diawali dengan kegiatan ke gereja St. Matius Bintaro sampai jam 08.00 aktivitas dimulai lagi. Hari ini fokusnya adalah out bond. Ada beberapa tipe untuk melatih kekompakan anak, misalnya:
1). Anak-anak dilatih untuk bekerjasama dalam memindahkan bola dengan menggunakan 4 benang, dimana masing-masing anak memegang ujung benang. Setelah benang berhasil menjepit bola itu, anak secara bersamaan harus menggeser bola danmemasukkannya di tempat yang telah disediakan.
2) Anak diminta untuk membuat jembatan bambu. Secara berpasangan anak memegang bambu yang kemudian salah seorang anak berusaha melewatinya. Bambu yang paling belakang, yang telah dilewati lalu berpindah ke depan. Dan demikian seterusnya sampai anak yang melalui bambu itu sampai di tujuannya.
3. Masing-masing anak memegang bambu kecil yang telah disediakan, berukuran panjang 30 cm. Tugas kelompok adalah menggeser ember berisi air di atas papan bambu yang melintang setinggi 2 meter. Bambu yang dipakai harus menyangga sayap ember. Jika salah satu bambu terlalu kuat menyangga maka ember akan miring, dan tidak tertutup kemungkinan bahwa air di dalam ember akan mengguyur anak sampai basah kuyup. Perlu kejelian. Sesampai ember di ujung lintasan, ember harus digeser ke tempat semua dengan cara yang sama. Perlu waktu yang cepat atau cekatan dan ketelitian.
4). Sekolompok anak diikat dengan kain. Disediakan 15 bola plastik di ujung lapangan. antara start dan finish berjarak kira-kira 10 meter. Cara pengambilan bola harus jongkok. Setelah seorang anak mengambil bola plastik, lalu bola itu diberikan kepada teman yang ada di belakangnya. Perjalanan anak yang diikat menjadi satu itu harus kompak, kalau tidak kompak ada kemungkinan kelompok itu akan jatuh, dan jatuh semuanya. Perlu kekompakan.
Pertobatan
Malam Senin, malam tanggal 20 April sebagai ibadat penutup diadakan ibadat pertobatan. Dalam hal ini anak-anak diajak untuk mengenang kembali bagaimana perjalanan hidupnya selama ini. Bagaimana ia bersikap di dalam keluarga: dengan adik, kakak, mama, papa, kakek, nenek, dengan satpam pribadinya, atau bahkan dengan pembantu sekalipun. Dengan bahasa pengantar dan musik yang menyentuh kalbu, anak digiring kepada situasi yang membuat hati dan diri anak menjadi kecil di hadapan Tuhan. Tisue disiapkan....
Pertobatan walaupun sekejap, namun membuat anak untuk sadar. Sadar akan dirinya dan lingkungan di sekitarnya. Sadar bahwa ia memelrukan orang lain, yang pernah ia sakiti atau ia benci. Dengan pertobatan ini, anak akan mengalami bahwa ia merasa dicintai oleh teman-temannya, guru, orang tuanya masing-masing.
Hari Senin, anak-anak mulai beraktivitas dengan membuat surat pribadinya yang ditujukan kepada orang tua masing-masing. Surat... merupakan sarana komunikasi yang dulu pernah berjaya, namun keberadaannya sekarangmulai tergeser dengan canggihnya alat elektronik, misalnya karena ada telepon genggam, email, faceboook, blogg, atau messenger atau catthing.
Pengalaman hidup selama retret mengarahakan anak agar ikut berbela rasa dengan sesama yang kekurangan. Anak dilatih untuk bertanggung jawab dalam hal : Makan, makanan harus dihabiskan. Saat makan tidak boleh sambil berbicara. Menghormati makanan apapun itu.
Semoga dengan penyadaran sesaat ini membuat pengalaman anak bertambah, untuk ikut berbela rasa dengan teman-teman yang berkekurangan.
Perjalanan hidup manusia merupakan sebuah peziarahan, bila dilihat dari sudut iman kristiani. Perjalanan manusia yang dilaksanakan sebagai sebuah rutinitas memerlukan sebuah etape atau stasi untuk berhenti dari aktivitas semula. Ibarat mengadakan seminar kita perlu break time. Atau dalam berdiskusi kita memerlukan adanya termin, jeda waktu untuk menghela nafas sejenak, istirahat dari kejenuhan aau rasa capai yang mendera. Sebagaimana halnya agenda tahunan Sekolah Dasar Asisi, maka bulan April 2009 ini secara berturut-turut selama 3 minggu aku relay-tour untuk tugas sekolah. 2 kali minggu untuk sekolah 1 minggu untuk keluarga.
Tanggal 18 sampai 20 April 2009 aku bersama Pak Gito dan Bu Tini mendampingi anak untuk menjalani retret selama 3 hari di Wisma Retret Canossa Bintaro. Pengalaman baru bagiku. Pendampingan anak-anak sebanyak 37 anak tidaklah sesederhana kalau kita pernah hidup di asrama yang nota bene seminari. Anaka-anak ini belum tahu artinya tertib, hening atau disiplin, artinya menempatkan waktu sesuai dengan porsinya.
Perjalanan dari SD Asisi lancar sampai di Canossa, dengan diantar oleh sopir yang menyetir sebuah bus. Perjalanan dari Tebet langsung masuk Tol Tebet, melalui Pancoran. Sampai Cawang bus langsung masuk jalur tol Jagorawi, dengan mengambil jalur tol TB Simatupang. Sesampai di gerbang tol Pondok Aren bus keluar tol. Rupanya sang sopir sudah hafal dengan rute tersebut.
Kami serombongan diterima oleh suster pengelola rumah retret. Selanjutnya pembagian kamar yang sudah dibagi pihak rumah retret. Perjalanan sedemikian lancar. Banyak permainan yang diberikan, banyak pengetahuan untuk melatih kerja sama di antara para siswa SD, khususnya waktu outbond.
Hari kedua, hari Minggu diawali dengan kegiatan ke gereja St. Matius Bintaro sampai jam 08.00 aktivitas dimulai lagi. Hari ini fokusnya adalah out bond. Ada beberapa tipe untuk melatih kekompakan anak, misalnya:
1). Anak-anak dilatih untuk bekerjasama dalam memindahkan bola dengan menggunakan 4 benang, dimana masing-masing anak memegang ujung benang. Setelah benang berhasil menjepit bola itu, anak secara bersamaan harus menggeser bola danmemasukkannya di tempat yang telah disediakan.
2) Anak diminta untuk membuat jembatan bambu. Secara berpasangan anak memegang bambu yang kemudian salah seorang anak berusaha melewatinya. Bambu yang paling belakang, yang telah dilewati lalu berpindah ke depan. Dan demikian seterusnya sampai anak yang melalui bambu itu sampai di tujuannya.
3. Masing-masing anak memegang bambu kecil yang telah disediakan, berukuran panjang 30 cm. Tugas kelompok adalah menggeser ember berisi air di atas papan bambu yang melintang setinggi 2 meter. Bambu yang dipakai harus menyangga sayap ember. Jika salah satu bambu terlalu kuat menyangga maka ember akan miring, dan tidak tertutup kemungkinan bahwa air di dalam ember akan mengguyur anak sampai basah kuyup. Perlu kejelian. Sesampai ember di ujung lintasan, ember harus digeser ke tempat semua dengan cara yang sama. Perlu waktu yang cepat atau cekatan dan ketelitian.
4). Sekolompok anak diikat dengan kain. Disediakan 15 bola plastik di ujung lapangan. antara start dan finish berjarak kira-kira 10 meter. Cara pengambilan bola harus jongkok. Setelah seorang anak mengambil bola plastik, lalu bola itu diberikan kepada teman yang ada di belakangnya. Perjalanan anak yang diikat menjadi satu itu harus kompak, kalau tidak kompak ada kemungkinan kelompok itu akan jatuh, dan jatuh semuanya. Perlu kekompakan.
Pertobatan
Malam Senin, malam tanggal 20 April sebagai ibadat penutup diadakan ibadat pertobatan. Dalam hal ini anak-anak diajak untuk mengenang kembali bagaimana perjalanan hidupnya selama ini. Bagaimana ia bersikap di dalam keluarga: dengan adik, kakak, mama, papa, kakek, nenek, dengan satpam pribadinya, atau bahkan dengan pembantu sekalipun. Dengan bahasa pengantar dan musik yang menyentuh kalbu, anak digiring kepada situasi yang membuat hati dan diri anak menjadi kecil di hadapan Tuhan. Tisue disiapkan....
Pertobatan walaupun sekejap, namun membuat anak untuk sadar. Sadar akan dirinya dan lingkungan di sekitarnya. Sadar bahwa ia memelrukan orang lain, yang pernah ia sakiti atau ia benci. Dengan pertobatan ini, anak akan mengalami bahwa ia merasa dicintai oleh teman-temannya, guru, orang tuanya masing-masing.
Hari Senin, anak-anak mulai beraktivitas dengan membuat surat pribadinya yang ditujukan kepada orang tua masing-masing. Surat... merupakan sarana komunikasi yang dulu pernah berjaya, namun keberadaannya sekarangmulai tergeser dengan canggihnya alat elektronik, misalnya karena ada telepon genggam, email, faceboook, blogg, atau messenger atau catthing.
Pengalaman hidup selama retret mengarahakan anak agar ikut berbela rasa dengan sesama yang kekurangan. Anak dilatih untuk bertanggung jawab dalam hal : Makan, makanan harus dihabiskan. Saat makan tidak boleh sambil berbicara. Menghormati makanan apapun itu.
Semoga dengan penyadaran sesaat ini membuat pengalaman anak bertambah, untuk ikut berbela rasa dengan teman-teman yang berkekurangan.
Minggu, 22 Maret 2009
(JANGAN) JENUH MENEGUR....
Seperti biasanya, hari Senin merupakan awal aku masuk ke kelas-kelas (kelas VI). Kebiasaan siswa atau murid yang 'hiperaktif' adalah sibuk dengan aktivitasnya sendiri. Atau kalau mereka belum mengerjakan Pekerjaan Rumah (PR) dengan alasan klasik 'lupa', maka kadang-kadang bahkan seringkali mereka curi-curi waktu dan kesempatan untuk mengerjakan pekerjaan rumah-nya itu.
Pengalaman saya pribadi tidak jemu untuk menegur siapa saja yang mencoba untuk mengacau atau sekedar membuat pelajaran tidak lancar. Maka, kebiasaanku menegur adalah dengan sesedikit mungkin dengan membuat kekerasan. Malas..... malas untuk menegur dengan kekerasan....
Ada beberapa model siswa yang pernah kutemui, misalnya:
a. Siswa yang aktif mendengar(kan) pelajaran. Dan biasanya aku ucapkan "Terima Kasih" atas perhatian Anda.
b. Siswa aktif mendengarkan namun sambil curi-curi waktu untuk mengerjakan hal lain. Atau sedikti berbicara dengan teman sebangku atau teman di depannya atau belakangnya. Sikap ini saya nilai, "Ya, bolehlah...."
c. Siswa aktif-keterlaluan. Artinya aktif untuk 'memboikot pelajaran', dengan membuat acara sendiri, membaca novel atau buku lain di luar pelajaran yang bersangkutan, ngobrol dengan temannya, membicarakan hal di luar pelajarannya.
d. Siswa yang 'autis'. Say sebut demikian karena mereka dengan tanpa dosa membuat kegiatan sendiri. Siswa jenis terakhir ini sangat disayangkan disekolahkan di Asisi ini. Kadang cuek, tanpa perhatian, bahkan cenderung menggangu teman lain. Cuek dan apatis dengan pelajaran, apatis dengan tugas atau PR, dengan ulangan (biasanya tidak belajar), remedial (perbaikan) apalagi.... Seolah-olah guru itu yang memerlukan nilai, padahal sebenarnya dia/mereka yang memerlukan nilai. Sadarlah nak....!!!
Guru... artinya digugu=ditaati dan ditiru=diikuti/diteladani semoga demikian dan kembali ke asalnya.
Pengalaman saya pribadi tidak jemu untuk menegur siapa saja yang mencoba untuk mengacau atau sekedar membuat pelajaran tidak lancar. Maka, kebiasaanku menegur adalah dengan sesedikit mungkin dengan membuat kekerasan. Malas..... malas untuk menegur dengan kekerasan....
Ada beberapa model siswa yang pernah kutemui, misalnya:
a. Siswa yang aktif mendengar(kan) pelajaran. Dan biasanya aku ucapkan "Terima Kasih" atas perhatian Anda.
b. Siswa aktif mendengarkan namun sambil curi-curi waktu untuk mengerjakan hal lain. Atau sedikti berbicara dengan teman sebangku atau teman di depannya atau belakangnya. Sikap ini saya nilai, "Ya, bolehlah...."
c. Siswa aktif-keterlaluan. Artinya aktif untuk 'memboikot pelajaran', dengan membuat acara sendiri, membaca novel atau buku lain di luar pelajaran yang bersangkutan, ngobrol dengan temannya, membicarakan hal di luar pelajarannya.
d. Siswa yang 'autis'. Say sebut demikian karena mereka dengan tanpa dosa membuat kegiatan sendiri. Siswa jenis terakhir ini sangat disayangkan disekolahkan di Asisi ini. Kadang cuek, tanpa perhatian, bahkan cenderung menggangu teman lain. Cuek dan apatis dengan pelajaran, apatis dengan tugas atau PR, dengan ulangan (biasanya tidak belajar), remedial (perbaikan) apalagi.... Seolah-olah guru itu yang memerlukan nilai, padahal sebenarnya dia/mereka yang memerlukan nilai. Sadarlah nak....!!!
Guru... artinya digugu=ditaati dan ditiru=diikuti/diteladani semoga demikian dan kembali ke asalnya.
Rabu, 17 Desember 2008
Rancangan Tuhan Sungguh Indah Bagi Manusia
MEMAKNAI AKHIR TAHUN 2008
"RancanganKu bukanlah Rancanganmu; dan Rancanganmu bukanlah RancanganKu"
Rancangan Tuhan sungguh tepat dan baik bagi umat manusia. mengapa Ia rela menginggalkan tahta kemuliaan-Nya bagi manusia dan datang ke dunia ini, kalau bukan semata-mata keran CINTA-Nya kepada manusia. Walaupun manusia berdosa dan (kadang-kadang) lari menjauh dari Tuhan, namun manusia tetap dicintai-Nya. Apakah yang dapat diberikan manusia untuk Tuhan? Apakah dengan berdoa mati-matian dan kita beramal, lalu menambah kemuliaan Tuhan? Apakah kalau kita menyembahNya lalu Tuhan semakin mulia? Tuhan - sebenarnya - tidak memerlukan pujian dan pengabdian dari manusia. Tuhan sejak dari awal - sekarang - dan yang akan datang tetaplah sama. Dia yang sejak awal penuh kemuliaan (seiring berjalannya waktu) pada akhir dunia Dia akan tetap mulia.
Manusia makin lama -makin dihantui atau dirongrong oleh kuasa dosa. Terbukti di dunia masih ada orang yang menyalahgunakan kekuasaan, dimana kekuasaan sebenarnya berasal dari Tuhan. Masih ada orang yang melanggar printah Allah yang ketujuh yang berbunyi "Jangan mencuri". Mencuri dalam hal ini yang saya maksudkan adalah mencuri dan segala bentuknya (korupsi-red.). Memang rancangan Tuhan sungguh baik bagi manusia. Tetapi rancangan manusia bukanlah rancangan Tuhan dan sebaliknya, rancangan Tuhan bukanlah rancangan manusia.
Akhir tahun merupakan saat sebuah perusahaan bisnis atau yayasan tertentu mengaudit, sejauh mana perusahaan atau yayasan telah berkinerja. Setiap hari raya besar, perusahaan atau yayasan biasanya memberikan tunjangan hari raya (THR) bagi mereka (karyawannya-red.) yang merayakan hari rayanya. Misalnya, pada waktu menjelang hari raya Idul Fitri, yang mendapatkan THR adalah karyawan yang beragama Islam. Demikian juga bagi karyawan yang beragama Kristen atau Katolik akan mendapat THR.
Kembali ke rancangan Tuhan. Apakah hubungan rancangan Tuhan dengan THR? Saya tertarik dengan tawaran Tuhan saat Ia mencari pekerja untuk bekerja di kebun anggur Tuhan dengan upah sedinar sehari. Ia sejak semula menawarkan kepada karyawan-Nya dengan upah sedinar sehari dan mereka membuat kesepakatan. Dan jadilah. Antara orang yang bekerja sehari penuh dengan orang yang bekerja setengah hari, antara orang yang bekerja beberapa jam di sore hari dengan orang yang bekerja 1 jam terakhir mendapat jatah atau upah yang sama dengan orang yang bekerja satu hari penuh. Bagi Tuhan itulah keadilan. Rancangan Tuhan ternyata berbeda dengan rancangan umat manusia. Bagi Tuhan keadilan itu mutlak.
Nah, bagaimana perbandingan antara upah yang diberikan Tuhan, yang sepakat dengan upah sedinar sehari, dengan tunjangan hari raya yang diberikan oleh sebuah perusahaan atau yayasan terhadap karyawannya? Sangat berbeda. Tuhan adalah kasih. Tuhan memberikan sesuatu pasti dengan tulus dan ikhlas.
Sebuah perusahaan membuat kriteria pembagian THR sebagai berikut :
* karyawan tetap atau yang sudah bekerja lebih dari 1 tahun menerima 75% dari gaji pokok.
* karyawan yang sudah 9 bulan bekerja di perusahaan itu mendapat 60% dari gaji pokok.
* karyawan yang sudah 6 bulan bekerja di perusahaan itu mendapat 50% dari gaji pokok, dan
* karyawan yang baru kurang 3 bulan bekerja di perusahaan itu mendapat 40% dari gaji pokok.
Bagaimana langkah berikut? Yang ingin saya lihat adalah rancangan Tuhan yang total mencintai manusia memang tanpa syarat apapun. Ia memberi nafas kehidupan dengan gratis alias cuma-cuma, tanpa bayar. Seandainya, setiap tarikan nafas kita kita harus menanggung bayaran atau dikenai biaya, sudah berapa juta rupiahkah yang harus kita bayar sejak kita dalam kandungan. lahir dan sampai saat ini?
Tuhan tidak memberikan nafas untuk hidup manusia 40% dari jatah yang harus Ia berikan kepada seseorang yang baru hidup 1 hari sampai 3 bulan. Ia juga tidak akan memberikan nafas hidup dan rejeki 50% bagi orang telah hidup sampai 6 bulan, atau 60% kepada orang yang bekerja atau hidup 9 bulan, atau 75% bagi yang telah 1 tahun atau lebih hidup.
Pertanyaan menggelitik hatiku: "Apakah akan rugi jika sebuah perusahaan itu membuat kebijakan yang sama dengan Tuhan, yang sepakat dengan 'sedinar sehari'? Tanpa membedakan antara yang bekerja dengan perusahaan itu 3 bulan atau bahkan sudah sebagai pegawai tetap dan sudah mengabdi di perusahaan itu selama 30 tahun?"
Akan menjadi sebuah mujizat dan baik kalau perusahaan menerapkan THR bagi karyawannya sesuai dengan prinsip 'sedinar sehari', tanpa membedakan apakah karyawan itu sudah bekerja 1 bulan atau 32 tahun.
Rancangan Tuhan memang bukanlah rancangan manusia, dan rancangan manusia bukanlah rancangan Tuhan. Tuhan mencintai, memberi, dan menjaga manusia dengan total, dengan sangat-sangat care, tanpa kita bimbang sedikitpun.
Akhirnya bagi rekan-rekan semuanya:
SELAMAT HARI RAYA NATAL 25 Desember 2008
dan
SELAMAT TAHUN BARU 1 Januari 2009
Selamat berjuang, tahun yang akan datang perjuangan untuk mengisi hidup ke dalam situasi yang lebih baik, akan makin berat.
Immanuel
Tuhan memberkati,
Benedictus TW (SD Asisi - Tebet)
Senin, 15 Desember 2008
Kidung "Magnificat" Maria
Lalu kata Maria: "Jiwaku memuliakan Tuhan,” (Lukas 1:46)
Apabila Anda penggemar musik klasik, tentu mengenal salah satu komposisi yang berjudul “Magnificat” karya Johan Sebastian Bach. Judul ini diambil dari madah (puji-pujian) yang diucapkan oleh Maria, ketika bertemu Elisabet, saudarinya. Ketika Elisabet menyambut Maria, ia mengucapkan madah. Maria membalasnya dengan madah pula yang menonjolkan kasih Allah, yang telah ditanggapi dengan iman penuh penyerahan diri.
Madah ini dibagi menjadi dua bagian. Bagian pertama (ay. 46-50), Maria mengagungkan tindakan kuasa Allah demi dirinya, wanita yang berstatus sosial rendah. Lewat berbagai ungkapan, dia menegaskan prakarsa kasih Allah.
Bagian kedua (ay. 51-55), menggambarkan semacam ‘revolusi sosial’ yang sedang dikerjakan dan kelak akan diwujudkan Allah di bumi ini. Nilai-nilai yang dianut dunia akan dijungkir-balikkan. Sebab Allah memperhatikan mereka yang hina-dina dan tidak diperhitungkan oleh masyarakat, khususnya oleh penguasa.
Melihat rencana Allah itu, maka hati Maria tergerak untuk memuliakan Tuhan. Manusia memang tidak mampu menambah keagungan Allah, tapi dapat menyadari dan menyatakan kemuliaan-Nya. Salah satu bentuk pengakuan terhadap kebesaran Allah adalah melalui puji-pujian dan doa.
Keluarga Zakaria merupakan sebuah keluarga yang sederhana sebagaimana keluarga Maria. Keluarga Zakaria berbeda dengan keluarga imam-imam kepala yang lain yang tinggal di ibukota. Keluarga seperti imam Zakaria terpaksa mencari nafkah hidup dengan melakukan pekerjaan tambahan, misalnya sebagai tukang kayu, pemahat batu, atau menjadi pedagang.
Mengapa Maria mengunjungi Elisabeth? Maria setelah mendapat kabar dari malaikat Gabriel bahwa saudarinya itu (Elisabeth) juga mengandung, ia mengunjunginya karena ia ingin menolong Elisabeth (bdk. Tradisi mitoni di suku Jawa, untuk perempuan yang mengandung anak pertama). Sebab yang lain adalah karena di Nazaret tak ada seorangpun yang dapat diajak bicara oleh Maria mengenai pengalaman mengandung. Maka, Maria segera pergi ke Ain Karem, untuk bertukar pikiran dengan Elisabeth. Perjalanan ke Ain Karem memakan waktu sampai lima hari atau berjarak sekitar 150 km.
Pertemuan kedua orang itu memiliki arti yang mendalam. Meskipun Elisabet lebih tua namun ia merasa dihormati, terbukti dengan kata-kata yang diucapkannya: ”Siapakah aku ini sampai ibu Tuhanku datang mengunjungi aku?” (Luk 1:43). Seketika itu anak yang ada di dalam rahimnya melonjak kegirangan, karena anak itu telah ditunjuk untuk menjadi nabi yang akan memperiapkan jalan bagi Tuhan.
Maria dan Elisabet hidup dalam suasana miskin dan merindukan pembebasan. Mereka tahu bahwa pembebasan itu tidak mungkin dilaksanakan oleh pemimpin yang berkuasa saat itu. Penguasa harus turun untuk memberi tempat bagi yang rendah. Orang kaya harus pergi dengan tangan kosong, agar orang yang lapar dapat menikmati apa yang telah disediakan oleh Tuhan. Dalam kidung Maria, Maria mewakili seluruh bangsa Israel yang rindu akan penyelamatan yang dinubuatkan oleh para nabi.
Maria dan Elisabeth sama-sama mengerti dan terbuka pada rencana Tuhan. Seperti kanak-kanak Musa diselamatkan berkat kerja sama para wanita (ibu Musa, kakak perempuan Musa, dan putri Firaun dan para dayangnya), di sini rencana Tuhan dimulai kaum wanita.
Melalui karya penyelamatan, kita telah dimasukkan dalam tindakan penyelamatan Allah. Kita yang seharusnya dihukum, karena kasih karunia Allah mendapatkan pembebasan dalam penghakiman terakhir. Tidak itu saja. Kita malah dianugerahi kemuliaan sorgawi. Mengetahui semua itu, hati siapa yang tidak akan memuliakan Tuhan, “Jiwaku memuliakan Tuhan!” Sudahkah Anda memuliakan Tuhan?
SMS from God: Pujilah Tuhan, sebab besar kasih setia-Nya pada umat-Nya.
Apabila Anda penggemar musik klasik, tentu mengenal salah satu komposisi yang berjudul “Magnificat” karya Johan Sebastian Bach. Judul ini diambil dari madah (puji-pujian) yang diucapkan oleh Maria, ketika bertemu Elisabet, saudarinya. Ketika Elisabet menyambut Maria, ia mengucapkan madah. Maria membalasnya dengan madah pula yang menonjolkan kasih Allah, yang telah ditanggapi dengan iman penuh penyerahan diri.
Madah ini dibagi menjadi dua bagian. Bagian pertama (ay. 46-50), Maria mengagungkan tindakan kuasa Allah demi dirinya, wanita yang berstatus sosial rendah. Lewat berbagai ungkapan, dia menegaskan prakarsa kasih Allah.
Bagian kedua (ay. 51-55), menggambarkan semacam ‘revolusi sosial’ yang sedang dikerjakan dan kelak akan diwujudkan Allah di bumi ini. Nilai-nilai yang dianut dunia akan dijungkir-balikkan. Sebab Allah memperhatikan mereka yang hina-dina dan tidak diperhitungkan oleh masyarakat, khususnya oleh penguasa.
Melihat rencana Allah itu, maka hati Maria tergerak untuk memuliakan Tuhan. Manusia memang tidak mampu menambah keagungan Allah, tapi dapat menyadari dan menyatakan kemuliaan-Nya. Salah satu bentuk pengakuan terhadap kebesaran Allah adalah melalui puji-pujian dan doa.
Keluarga Zakaria merupakan sebuah keluarga yang sederhana sebagaimana keluarga Maria. Keluarga Zakaria berbeda dengan keluarga imam-imam kepala yang lain yang tinggal di ibukota. Keluarga seperti imam Zakaria terpaksa mencari nafkah hidup dengan melakukan pekerjaan tambahan, misalnya sebagai tukang kayu, pemahat batu, atau menjadi pedagang.
Mengapa Maria mengunjungi Elisabeth? Maria setelah mendapat kabar dari malaikat Gabriel bahwa saudarinya itu (Elisabeth) juga mengandung, ia mengunjunginya karena ia ingin menolong Elisabeth (bdk. Tradisi mitoni di suku Jawa, untuk perempuan yang mengandung anak pertama). Sebab yang lain adalah karena di Nazaret tak ada seorangpun yang dapat diajak bicara oleh Maria mengenai pengalaman mengandung. Maka, Maria segera pergi ke Ain Karem, untuk bertukar pikiran dengan Elisabeth. Perjalanan ke Ain Karem memakan waktu sampai lima hari atau berjarak sekitar 150 km.
Pertemuan kedua orang itu memiliki arti yang mendalam. Meskipun Elisabet lebih tua namun ia merasa dihormati, terbukti dengan kata-kata yang diucapkannya: ”Siapakah aku ini sampai ibu Tuhanku datang mengunjungi aku?” (Luk 1:43). Seketika itu anak yang ada di dalam rahimnya melonjak kegirangan, karena anak itu telah ditunjuk untuk menjadi nabi yang akan memperiapkan jalan bagi Tuhan.
Maria dan Elisabet hidup dalam suasana miskin dan merindukan pembebasan. Mereka tahu bahwa pembebasan itu tidak mungkin dilaksanakan oleh pemimpin yang berkuasa saat itu. Penguasa harus turun untuk memberi tempat bagi yang rendah. Orang kaya harus pergi dengan tangan kosong, agar orang yang lapar dapat menikmati apa yang telah disediakan oleh Tuhan. Dalam kidung Maria, Maria mewakili seluruh bangsa Israel yang rindu akan penyelamatan yang dinubuatkan oleh para nabi.
Maria dan Elisabeth sama-sama mengerti dan terbuka pada rencana Tuhan. Seperti kanak-kanak Musa diselamatkan berkat kerja sama para wanita (ibu Musa, kakak perempuan Musa, dan putri Firaun dan para dayangnya), di sini rencana Tuhan dimulai kaum wanita.
Melalui karya penyelamatan, kita telah dimasukkan dalam tindakan penyelamatan Allah. Kita yang seharusnya dihukum, karena kasih karunia Allah mendapatkan pembebasan dalam penghakiman terakhir. Tidak itu saja. Kita malah dianugerahi kemuliaan sorgawi. Mengetahui semua itu, hati siapa yang tidak akan memuliakan Tuhan, “Jiwaku memuliakan Tuhan!” Sudahkah Anda memuliakan Tuhan?
SMS from God: Pujilah Tuhan, sebab besar kasih setia-Nya pada umat-Nya.
Permenungan: Memaknai Hari Natal
Artikel ini saya ambil dari tulisan Sdr. Idham dalam www.gp-ansor.org
Semoga bermanfaat dalam menjaga kerukunan beragama di republik ini.
Setiap kali mendekati pelaksanaan hari Natal, muncul perdebatan klasik yang terus berkembang dan menjadi wacana yang tidak produktif. Tokoh-tokoh agama kembali mulai mengingatkan kepada umatnya “melarang” mengucapkan SELAMAT NATAL kepada saudara-saudarannya (se-bangsa) sendiri. Memang tidak sedikit juga bersikap moderat dalam memaknai ucapan SELAMAT NATAL yang dianggapnya boleh-boleh saja. Perdebatan yang tidak produktif itu terjadi karena paradigma keagamaan yang berbeda dalam memandang dan menafsirkan tindakan ucapan selamat natal itu sendiri. Seharusnya perdebatan itu tidak terjadi kalau saja kita tidak memaknai ucapan SELAMAT NATAL itu dalam doktrin keagamaan tertentu, yang seharusnya ucapan selamat itu dimaknai dalam konteks kemanusiaan dan persaudaraan, murni sebagai upaya penguatan relasi sosial.
Bahwa perlu memberikan ucapan selamat kepada saudara kita yang merayakannya. Kalaupun membawanya ke dalam konteks teologinya, harus diarahkan untuk lebih menghormati kelahiran nabi Isa (Yesus). Bukankah dalam ajaran Islam sendiri kita dilarang untuk membeda-bedakan nabi-nabi Allah (la nufarriq bayna ahadin min rusulih)?
Dalam masyarakat yang plural, sangat urgen adanya saling memahami ajaran agama masing-masing dengan mendalam (kaffah), selain bisa membangun cara keberagamaan yang lebih berkualitas, juga bisa menularkan bangunan rasa saling hormat dan menghormati satu sama lainnya. Tidak kalah pentingnya akan mampu melahirkan sikap terbuka dan menerima, bukan untuk mempertebal sikap fanatik dan curiga antar umat beragama. Karena antara umat beragama masing-masing punya kesamaan khususnya dalam konteks hubungan sosial dan ajaran-ajaran universal.
Islam dan Kristen akan bisa bertemu dalam dalam ajaran cinta kasih, ajaran cinta yang selama ini sangat identik dengan ajaran Kristen, sedangkan ajaran “rahmat” (kasih) sangat identik dengan ajaran Islam. Ajaran cinta kasih harus menjadi kekuatan utama dalam membangun harmonisasi sosial antar umat beragama.
Mengucapkan SELAMAT NATAL , bukan berarti kita menukar dan mengotori aqidah untuk persaudaraan. Karena setiap pemeluk agama masing-masing punya batas-batas toleransi, hormat-menghormati dan menjaga kemurnian aqidah. Meski mengucapkan selamat, tetapi akidah islamiyah tetap murni dan tidak terkotori oleh ajaran lainnya. Ucapan SELAMAT NATAL tidak melulu dilihat sebagai doktrin keamaan, apalagi pintu masuk dalam ke-murtad-an. Harus juga dipandang dari sudut mujamalah dan muhasanah. Tentu ajaran Islam tidak melarang kita untuk menjaga pergaulan baik dengan saudara-saudara kita sendiri. terlebih mereka juga menucapkan hal yang sama disaat kita merayakan hari raya idul fitri dan idul.
Pada dasarnya larangan ucapan selamat natal boleh jadi karena menganggap ucapan selamat itu sudah merupakan prasyarat ritual keagamaan, atau karena ketakutan tokoh-tokoh agama melihat umatnya bisa terpengaruh dengan ajaran lainnya dan menyebabkan bisa murtad.
Islam adalah ajaran kemanusiaan yang tentu mengandung nilai-nilai kemanusiaan yang harus jadi mainstream umat. Sebagai umat mayoritas Islam, hendaknya mampu melindungi seluruh umat lain dari berbagai bentuk diskriminasi dan kekerasan tanpa memandang mereka berbeda aqidah dengan kita. Ajaran toleransi yang sesungguhnya juga diajarkan oleh Rasulullah dan sahabat-sahabatnya.
Dalam sejarah Ibn Khaldun dijelaskan, ‘Umar ibn Khathtab datang ke Syam guna mengikat perjanjian damai dengan penduduk Ramalla. Umar mendatangi mereka dan menulis perjanjian keamanan yang substansinya berbunyi: Dengan nama Allah Maha Pengasih dan Maha Penyayang, dari Umar ibn Khaththab kepada penduduk Ailea (Baytul Maqdis atau Yerusalem), bahwa mereka aman atas jiwa dan anak turun mereka, juga wanita-wanita mereka, dan semua gereja mereka tidak boleh diduduki dan tidak boleh dirusak.
Di lain waktu, Umar ibn Khaththab juga pernah sembahyang di anak tangga Gereja, dan tidak mendapat penentangan dari sahabat Rasulullah yang lainnya, termasuk Rasulullah itu sendiri. tetapi, kenapa hanya mengucapkan SELAMAT NATAL saja di haramkan? Bukankah itu sangat berlebihan dalam menginterpretasikan ajaran agama khususnya memaknai realitas ucapan selamat natal itu sendiri. Sama halnya ketika MUI mengharamkan pluralisme, padahal pluralisme menjadi salah satu faktor utama toleransi yang baik antar-agama, pluralisme menawarkan persaudaraan antara sesama tanpa harus mencampuri keyakinan satu sama lain, pluralisme selalu mendasarkan atas segala sesuatu pada perbedaan dan bukan kesamaan.
Perbedaan tetaplah berbeda, jangan pernah memaksakan untuk bisa sama apalagi seragam.
Salam...
Semoga bermanfaat dalam menjaga kerukunan beragama di republik ini.
Setiap kali mendekati pelaksanaan hari Natal, muncul perdebatan klasik yang terus berkembang dan menjadi wacana yang tidak produktif. Tokoh-tokoh agama kembali mulai mengingatkan kepada umatnya “melarang” mengucapkan SELAMAT NATAL kepada saudara-saudarannya (se-bangsa) sendiri. Memang tidak sedikit juga bersikap moderat dalam memaknai ucapan SELAMAT NATAL yang dianggapnya boleh-boleh saja. Perdebatan yang tidak produktif itu terjadi karena paradigma keagamaan yang berbeda dalam memandang dan menafsirkan tindakan ucapan selamat natal itu sendiri. Seharusnya perdebatan itu tidak terjadi kalau saja kita tidak memaknai ucapan SELAMAT NATAL itu dalam doktrin keagamaan tertentu, yang seharusnya ucapan selamat itu dimaknai dalam konteks kemanusiaan dan persaudaraan, murni sebagai upaya penguatan relasi sosial.
Bahwa perlu memberikan ucapan selamat kepada saudara kita yang merayakannya. Kalaupun membawanya ke dalam konteks teologinya, harus diarahkan untuk lebih menghormati kelahiran nabi Isa (Yesus). Bukankah dalam ajaran Islam sendiri kita dilarang untuk membeda-bedakan nabi-nabi Allah (la nufarriq bayna ahadin min rusulih)?
Dalam masyarakat yang plural, sangat urgen adanya saling memahami ajaran agama masing-masing dengan mendalam (kaffah), selain bisa membangun cara keberagamaan yang lebih berkualitas, juga bisa menularkan bangunan rasa saling hormat dan menghormati satu sama lainnya. Tidak kalah pentingnya akan mampu melahirkan sikap terbuka dan menerima, bukan untuk mempertebal sikap fanatik dan curiga antar umat beragama. Karena antara umat beragama masing-masing punya kesamaan khususnya dalam konteks hubungan sosial dan ajaran-ajaran universal.
Islam dan Kristen akan bisa bertemu dalam dalam ajaran cinta kasih, ajaran cinta yang selama ini sangat identik dengan ajaran Kristen, sedangkan ajaran “rahmat” (kasih) sangat identik dengan ajaran Islam. Ajaran cinta kasih harus menjadi kekuatan utama dalam membangun harmonisasi sosial antar umat beragama.
Mengucapkan SELAMAT NATAL , bukan berarti kita menukar dan mengotori aqidah untuk persaudaraan. Karena setiap pemeluk agama masing-masing punya batas-batas toleransi, hormat-menghormati dan menjaga kemurnian aqidah. Meski mengucapkan selamat, tetapi akidah islamiyah tetap murni dan tidak terkotori oleh ajaran lainnya. Ucapan SELAMAT NATAL tidak melulu dilihat sebagai doktrin keamaan, apalagi pintu masuk dalam ke-murtad-an. Harus juga dipandang dari sudut mujamalah dan muhasanah. Tentu ajaran Islam tidak melarang kita untuk menjaga pergaulan baik dengan saudara-saudara kita sendiri. terlebih mereka juga menucapkan hal yang sama disaat kita merayakan hari raya idul fitri dan idul.
Pada dasarnya larangan ucapan selamat natal boleh jadi karena menganggap ucapan selamat itu sudah merupakan prasyarat ritual keagamaan, atau karena ketakutan tokoh-tokoh agama melihat umatnya bisa terpengaruh dengan ajaran lainnya dan menyebabkan bisa murtad.
Islam adalah ajaran kemanusiaan yang tentu mengandung nilai-nilai kemanusiaan yang harus jadi mainstream umat. Sebagai umat mayoritas Islam, hendaknya mampu melindungi seluruh umat lain dari berbagai bentuk diskriminasi dan kekerasan tanpa memandang mereka berbeda aqidah dengan kita. Ajaran toleransi yang sesungguhnya juga diajarkan oleh Rasulullah dan sahabat-sahabatnya.
Dalam sejarah Ibn Khaldun dijelaskan, ‘Umar ibn Khathtab datang ke Syam guna mengikat perjanjian damai dengan penduduk Ramalla. Umar mendatangi mereka dan menulis perjanjian keamanan yang substansinya berbunyi: Dengan nama Allah Maha Pengasih dan Maha Penyayang, dari Umar ibn Khaththab kepada penduduk Ailea (Baytul Maqdis atau Yerusalem), bahwa mereka aman atas jiwa dan anak turun mereka, juga wanita-wanita mereka, dan semua gereja mereka tidak boleh diduduki dan tidak boleh dirusak.
Di lain waktu, Umar ibn Khaththab juga pernah sembahyang di anak tangga Gereja, dan tidak mendapat penentangan dari sahabat Rasulullah yang lainnya, termasuk Rasulullah itu sendiri. tetapi, kenapa hanya mengucapkan SELAMAT NATAL saja di haramkan? Bukankah itu sangat berlebihan dalam menginterpretasikan ajaran agama khususnya memaknai realitas ucapan selamat natal itu sendiri. Sama halnya ketika MUI mengharamkan pluralisme, padahal pluralisme menjadi salah satu faktor utama toleransi yang baik antar-agama, pluralisme menawarkan persaudaraan antara sesama tanpa harus mencampuri keyakinan satu sama lain, pluralisme selalu mendasarkan atas segala sesuatu pada perbedaan dan bukan kesamaan.
Perbedaan tetaplah berbeda, jangan pernah memaksakan untuk bisa sama apalagi seragam.
Salam...
Langganan:
Postingan (Atom)