Selasa, 13 April 2010

Harapan Tahun Ajaran Baru 2010-2011

Bagi sebagian guru, ini yang aku alami, di menjelang akhir tahun pelajaran ada hal yang membuat nggak enak. ini pengalaman yang kualami, yang saat ini menyandang status sebagai guru honor (terhormat atau dihormati), walaupun kadang tidak dihormati sebagai guru (honorabillis).
Banyak sesama guru yang ketar-ketir atau betapa bahagia mereka karena mereka sudah mendapat keputusan untuk lanjut "dipakai" atau di-cut alias tidak lanjut dipakai menjadi guru di sekolah tertentu.
Guru, saat ini seolah bukan pekerjaan yang bergengsi. Karena kulihat dari tempat kerjaku, yang menjadi guru tidak imbang perbandingannya antara yang berjenis kelamin laki-laki dan perempuan. Dan, kenyataannya banyak yang perempuan....

Demikian juga rasa keadilan seakan mengoyak nurani, ketika ada guru yang baru masuk - secara otomatis langsung menjadi guru tetap, dengan mudahnya melenggang seakan tidak ada beban (dosa). Sementara di sekolah ini ada yang berjuang sebagai honor tadi, sudah bahkan 5-8 tahun, ternyata ujung-ujungnya kandas juga tidak dipakai.

Di manakah akar permasalahannya?

Aku bukan pembuat keputusan... aku juga tidak punya kuasa apapun, selain aku memiliki hak untuk meneladan Sang Guru Abadi, yang telah rela mati untuk dosa manusia. Dialah Yesus Kristus, Sang Guru Sejati... dimana siapapun yang mau mengikuti dan meneladani cara hidupnya dipersilahkan... monggo.... tanpa syarat dan tanpa sogokan untuk masuk menjadi murid-Nya.
Orang yang punya kuasa seakan bermain seluas-luas kekuasaannya... tanpa memandang sejauh mana sisi positif yang telah dilakukan dan dimilikinya.
Sepertinya pihak yang punya kuasa untuk menentukan hidup seseorang atau keluarga seseorang itu, mereka dengan mudah memutuskan terus dipakai atau tidak terus dipakai itu berdasarkan tes Psikologi. Memang perlu sih.... tapi adakah guru ideal itu di dunia ini, selain Tuhan Yesus sendiri.
Begitu jatuh bangunnya diriku untuk berusaha sekuat mungkin untuk tidak marah, tapi ada yang memandang guru itu lembek, tidak punya ketegasan...
Ada yang memandang guru itu mudah memberi nilai, tapi ada yang memandang guru itu murahan... Dan masih banyak litani guru yang lain, yang menyudutkan eksistensi guru itu sendiri....

Suatu saat akudan teman-teman dengan para siswa SD mau berangkat camping rohani (8-10 April 2010) ke PGI Cipayung. Suatu saat anak-anak antri untuk masuk bus,ternyata ada orang tua yang menanyai, "Bapak guru rombongan ini?". Lalu saya jawab, "Ya". tanpa basa-basi dan tanpa permisi, dan pasti tidak kenal saya, juga saya tidak mengenalnya, langsung bapa itu tanpa rasa tahu diri memarahi,"Atur dong, gimana sih jadi guru.... nggak bisa diteladani"!Capek deh...
Siang bolong... habis mengajar anak-anak... tahu-tahunya aku dimarahi di depan orang banyak....

Begitulah nasib guru...
Aku di akhir tahun pelajaran ini mengalami kegetiran hati, bukan kekuatiran... Aku harus dinilai untuk layak memberikan pengajaran atau tidak, sementara dapurku harus mengepulkan asap kehidupan.... Harapanku: semoga... apapun yang terjadi aku diberi iman sebesar iman Bunda Maria, yang begitu kuat dan dengan tegas mengatakan: "Terjadilah padaku menurut perkataanmu...."!

Ya Tuhan berilah kami kekuatan untuk menerima kehendak-Mu melalaui tangan-tangan orang yang berkuasa menentukan keberadaanku di tempat ini, tapi bukan menentukan hidupku... Amin.

Pak dan Bu Polisi, belajarlah dari Pak Hoegeng!

Belajar dari Pak Hoegeng (1921-2004)


Selasa ,13 April 2010
Orang yang mau membersihkan Polisi harus sebersih Polisi Tidur .
Ada guyonan di masyarakat tentang kejujuran seorang Polisi bahwa hanya ada dua polisi yang tidak bisa disuap, yaitu Polisi Hoegeng dan polisi tidur.
Dari pagi ini sampai sore saya menonton berita terkini di metro TV tentang kembalinya SJ (Syarhril Johan) ke Indonesia dari Singapura dan beritatentang Susno yang sempat dibawa ke Mabes Polri untuk diperiksa DivPropam .Dampak dari berita tentang Gayus Tambunan membuat citra Polisi dengan segala Prestasinya seperti tenggelam,Polisi selalu dipersalahkan.
Susno berjanji bisa membersihkan Polri selama 6(enam ) bulan .Tapi apa benar Susno bisa membersihkan polisi? Film Pursuit Of happyness yang dibintangi oleh Will Smith mempunyai makna “saat situasi kondisi memaksa untuk terhimpit /menyerah membuat semangat kita harus terus berjuang dan terus maju.Semangat harus untuk berjuang dan terus maju untuk berubah ke arah yang lebih baik .Situasi yang dihadapi Polisi saat ini harus membuat polisi tetap berjuang dan bersemangat untuk maju! Semangat itu sudah diinspirasi oleh pak Hoegeng saat inilah saat yang paling tepat untuk terus maju dan berjuang untuk perubahan .Polisi ingin dibersihkan perlu figur ,teladan seperti Hoegeng .Untuk Meningkatkan Citra kepolisian yang belakangan ini diperlukan suatu figur kepemimpinan yang bisa dijadikan teladan(role model) .Setelah membaca beberapa buku dan artikel di website figur yang tepat adalah Hoegeng Imam Santoso yang dikenal dengan nama Hoegeng .Belajar dari Pak Hoegeng untuk menjadi Polisi yang dicintai masyarakat ,memang tidak semudah yang diucapkan tapi kenyataan inilah model Polisi teladan yang bisa dijadikan “Tuntunan bukan tontonan ” (bukan seperti sekarang polisi dijadikan Tontonan).Inilah cerita singkat tentang Hoegeng Untuk dijadikan renungan bagi para saya (Bhayangkara )
Kejujuran Hoegeng dalam keseharian maupun di lingkungan Polri tak diragukan lagi. Semua tercatat dalam buku yang diterbitkan Bentang Pustaka, Yogyakarta, Hoegeng. Saat bertugas di Medan, Sumatra Utara (Sumut), banyak peristiwa mencengangkan dilakukan ayah tiga anak ini. Dia mengeluarkan secara paksa perabotan di rumah dinasnya. Perabotan mahalmahal itu ditaruh di pinggir jalan. Kelakuan itu bukan tanpa alasan. Barang-barang itu sebagai pelicin dari cukong agar bisnis ilegalnya berjalan mulus.
Hoegeng juga pernah marah-marah sambil melemparkan berbagai hadiah (parsel) ke luar jendela. Walaupun nilainya kecil, tetap saja itu sogokan, dan pasti ada maunya. Peristiwa itu seperti baru terjadi kemarin sore dan hingga kini melegenda di Kepolisian RI, khususnya di Medan, kata Jenderal Pol Kuntarto yang menjadi kapolda Sumut tahun 1987-1988.Kehadiran Hoegeng di Sumut untuk menumpas bisnis ilegal, penyelundupan, dan judi. Bisnis itu berjalan lancar, karena saat itu ada backing dari oknum tentara dan oknum polisi. Hoegeng kemudian merunut jejak praktik kongkalikong itu. Ia menemukan, ujung-ujungnya adalah Cina Medan. Sedangkan oknum aparat tak lebih sebagai kacungnya. Sebuah kenyataan yang amat memalukan,gumam Hoegeng dengan geram dihalaman 50 buku itu.
Di tangan pria kelahiran Pekalongan ini, para penjudi dan penyelundup tak bisa berkutik. Semua ditangkap, termasuk para backing diproses secara hukum. Sukses di Sumut, Hoegeng mendapat tugas memberantas KKN di Jawatan Imigrasi, lalu menjadi menteri Iuran Negara. Dia pun berhasil menjalankan tugasnya. Lalu dikembalikan ke kepolisian sebagai kapolri menggantikan Soetjipto yang mundur.
Hoegeng dilantik oleh Presiden Soeharto pada 15 Mei 1968. Sebelumnya, Soeharto mengingatkan kepada Hoegeng agar polisi tak memikirkan tugas angkatan lain yang memiliki fungsi tempur. Hendaknya polisi menjalankan tugas sesuai fungsinya, dan jangan ada lagi faksi di kalangan perwira yang membuat persaingan tidak sehat. Hoegeng setuju. Namun, dia juga meminta agar angkatan lain pun tidak mencampuri urusan intern Kepolisian. Soeharto hanya diam. Bahkan hingga berhenti sebagai kapolri, Hoegeng tidak tahu bagaimana sikap Soeharto yang sebenarnya.
Selama Menjadi menjadi kapolri, Hoegeng sangat disiplin. Sebelum jam tujuh pagi sudah datang di kantor. Dari rumah dinasnya di Menteng menuju Mabes Polri di Kebayoran Baru selalu ditempuh dengan rute berbeda. Cara ini dilakukan agar kapolri mengetahui kondisi lalu lintas, termasuk kesiagaan polisi lalu lintasnya. Jika terjadi kemacetan di ja lan, ia tak ragu turun dari ken daraannya mengatur lalu lintas. Hoegeng menjalankan dengan ikhlas, seraya memberi contoh kepada anak buahnya di lapangan.Sebagai pucuk pimpinan Kepolisian, Hoegeng pun dekat dengan masyarakat. Baginya tidak perlu ada gardu penjaga di halaman rumah agar setiap orang tidak merasa takut atau enggan bertamu ke rumahnya. Dia menjadikan rumahnya sebagai rumah komando yang terbuka 24 jam untuk urusan dinas kepolisian.Selama ia menjabat sebagai kapolri ada dua kasus menggemparkan masyarakat. Pertama kasus Sum Kuning, yaitu pemerkosaan terhadap penjual telur, Sumarijem, yang diduga pelakunya anak-anak petinggi teras di Yogyakarta. Ironisnya, korban perkosaan malah dipenjara oleh polisi dengan tuduhan memberi keterangan palsu. Lalu merembet dianggap terlibat kegiatan ilegal PKI. Nuansa rekayasa semakin terang ketika persidangan digelar tertutup. Wartawan yang menulis kasus Sum harus berurusan dengan Dandim 096.
Hoegeng bertindak. Kita tidak gentar menghadapi orangorang gede siapa pun. Kita hanya takut kepada Tuhan Yang Mahaesa. Jadi, walaupun keluarga sendiri, kalau salah tetap kita tindak. Geraklah the sooner the better, tegas Hoegeng di halam an 95.
Kasus lainnya yang menghebohkan adalah penyelundupan mobil-mobil mewah bernilai miliaran rupiah oleh Robby Tjah jadi. Berkat jaminan, pengusaha ini hanya beberapa jam mendekam di tahanan Komdak. Sungguh berkua sanya si penjamin sampai Ke jaksaan Jakarta Raya pun memetieskan kasus ini. Siapakah si penjamin itu?
Tapi, Hoegeng tak gentar. Di kasus penyelundupan mobil mewah berikutnya, Robby tak berkutik. Pejabat yang terbukti menerima sogokan ditahan. Ru mor yang santer, gara-gara membong kar kasus ini pula yang menyebabkan Hoegeng di pensiunkan, 2 Oktober 1971 dari ja batan kapolri. Kasus ini ter nya ta me libatkan sejumlah pe jabat dan perwira tinggi ABRI (hlm 118).
Bayangan banyak orang, memasuki masa pensiun orang pertama di kepolisian pasti menyenangkan. Tinggal menikmati rumah mewah berikut isinya, kendaraan siap pakai. Semua itu diperoleh dari sogokan para peng usaha.
Ternyata masa menyenangkan itu tidak berlaku bagi Hoegeng yang anti disogok. Pria yang pernah dinobatkan sebagai The Man of the Year 1970 ini pensiun tanpa memiliki rumah, kendaraan, maupun barang mewah. Rumah dinas menjadi milik Hoegeng atas pemberian dari Kepolisian. Beberapa kapolda patungan membeli mobil Kingswood, yang kemudian menjadi satu-satunya mobil yang ia miliki.Pengabdian yang penuh dari Pak Hoegeng tentu membawa konsekuensi bagi hidupnya sehari-hari. Pernah dituturkannya sekali waktu, setelah berhenti dari Kepala Polri dan pensiunnya masih diproses, suatu waktu dia tidak tahu apa yang masih dapat dimakan oleh keluarga karena di rumah sudah kehabisan beras.
Itulah sekadar beberapa catatan kenangan untuk Pak Hoegeng yang baru saja meninggalkan kita. Seorang yang hidupnya senantiasa jujur, seorang yang menjadi simbol bagi hidup jujur, dan simbol bagi kejujuran yang hidup. Ada guyonan di masyarakat tentang kejujuran seorang Hoegeng bahwa hanya ada dua polisi yang tidak bisa disuap, yaitu Polisi Hoegeng dan polisi tidur. Berbagai gebrakan internal ataupun ekternal telah dilakukan dalam rangka membersihkan polisi yang melakukan pelanggaran dan “nakal” dan harus berkomitmen menyeret polisi ke pengadilan jika terbukti bersalah. Keberhasilan dalam membersihkan internal kepolisian akan menjadi poin tersendiri dalam meningkatkan kepercayaan masyarakat terhadap kinerja kepolisian.Setiap waktu pula upaya kepolisian untuk mendongkrak citra positif selalu berpacu dengan masalah opini masyarakat akibat dari masalah Markus Gayus Tambunan . Mestinya pelbagai kejadian buruk bisa berkurang, apalagi polisi sudah dilepaskan dari TNI. Pada masa transparansi, akuntabilitas, dan transisi demokrasi, seperti sekarang ini, jajaran kepolisian dituntut untuk bisa membersihkan berbagai masalah, terlebih lagi korupsi di dalam tubuh polisi itu sendiri. Sebagai salah satu institusi yang memiliki peran besar dalam proses pengamanan dan keamanan negara, Kepolisian Negara Republik Indonesia (Polri) harus terus untuk berbenah diri menuju polisi yang profesional.dilema yang dirasakan oleh bhayangkara saat ini adalah satu sisi ingin berubah dan disatu juga masih butuh ”materi” untk kehidupan sehari-hari.Figur seorang pemimpin di tubuh aparat kepolisian di manapun posisinya harus mampu mendorong perbaikan citra polisi secara kualitatif.
Kunci perunbahan terletak pada budaya informal Polisi :perilaku mereka dilapangan seperti budaya 86 ,lapor kambing hilang kandangnya,tidak responsif kalau tidak ada uang bensinya,uang rokok dll.kesimpulannya perilaku yang akan ditanamkan kepada seluruh Anggota Bhayangkara adalah berubahnya karakter pada individu per individu dalam menjalankan tugas dengan pedoman dan figur dari pemimpinnya .supaya bisa merubah budaya informal yang tidak baik dan bisa menjadi agen perubahan POLRI dengan membuat budaya informal yang bernuansa yang baru pada unit yang akan dipimpinnya sehingga dapat meraih hati masyarakat dan memulihkan luka yang telah tertancap lama .

APAPUN yang dikatakan orang,percayalah gagasan dan kata-kata serta tulisan dapat mengubah dunia

Terima Kasih Pak Hoegeng. Perjuangan hidupmu tidak akan sia-sia

Pak/Bu Polisi, belajarlah dari Pak Hoegeng....

Belajar dari Pak Hoegeng (1921-2004)

Selasa ,13 April 2010
Orang yang mau membersihkan Polisi harus sebersih Polisi Tidur .
Ada guyonan di masyarakat tentang kejujuran seorang Polisi bahwa hanya ada dua polisi yang tidak bisa disuap, yaitu Polisi Hoegeng dan polisi tidur.
Dari pagi ini sampai sore saya menonton berita terkini di metro TV tentang kembalinya SJ (Syarhril Johan) ke Indonesia dari Singapura dan beritatentang Susno yang sempat dibawa ke Mabes Polri untuk diperiksa DivPropam .Dampak dari berita tentang Gayus Tambunan membuat citra Polisi dengan segala Prestasinya seperti tenggelam,Polisi selalu dipersalahkan.
Susno berjanji bisa membersihkan Polri selama 6(enam ) bulan .Tapi apa benar Susno bisa membersihkan polisi? Film Pursuit Of happyness yang dibintangi oleh Will Smith mempunyai makna “saat situasi kondisi memaksa untuk terhimpit /menyerah membuat semangat kita harus terus berjuang dan terus maju.Semangat harus untuk berjuang dan terus maju untuk berubah ke arah yang lebih baik .Situasi yang dihadapi Polisi saat ini harus membuat polisi tetap berjuang dan bersemangat untuk maju! Semangat itu sudah diinspirasi oleh pak Hoegeng saat inilah saat yang paling tepat untuk terus maju dan berjuang untuk perubahan .Polisi ingin dibersihkan perlu figur ,teladan seperti Hoegeng .Untuk Meningkatkan Citra kepolisian yang belakangan ini diperlukan suatu figur kepemimpinan yang bisa dijadikan teladan(role model) .Setelah membaca beberapa buku dan artikel di website figur yang tepat adalah Hoegeng Imam Santoso yang dikenal dengan nama Hoegeng .Belajar dari Pak Hoegeng untuk menjadi Polisi yang dicintai masyarakat ,memang tidak semudah yang diucapkan tapi kenyataan inilah model Polisi teladan yang bisa dijadikan “Tuntunan bukan tontonan ” (bukan seperti sekarang polisi dijadikan Tontonan).Inilah cerita singkat tentang Hoegeng Untuk dijadikan renungan bagi para saya (Bhayangkara )
Kejujuran Hoegeng dalam keseharian maupun di lingkungan Polri tak diragukan lagi. Semua tercatat dalam buku yang diterbitkan Bentang Pustaka, Yogyakarta, Hoegeng. Saat bertugas di Medan, Sumatra Utara (Sumut), banyak peristiwa mencengangkan dilakukan ayah tiga anak ini. Dia mengeluarkan secara paksa perabotan di rumah dinasnya. Perabotan mahalmahal itu ditaruh di pinggir jalan. Kelakuan itu bukan tanpa alasan. Barang-barang itu sebagai pelicin dari cukong agar bisnis ilegalnya berjalan mulus.
Hoegeng juga pernah marah-marah sambil melemparkan berbagai hadiah (parsel) ke luar jendela. Walaupun nilainya kecil, tetap saja itu sogokan, dan pasti ada maunya. Peristiwa itu seperti baru terjadi kemarin sore dan hingga kini melegenda di Kepolisian RI, khususnya di Medan, kata Jenderal Pol Kuntarto yang menjadi kapolda Sumut tahun 1987-1988.Kehadiran Hoegeng di Sumut untuk menumpas bisnis ilegal, penyelundupan, dan judi. Bisnis itu berjalan lancar, karena saat itu ada backing dari oknum tentara dan oknum polisi. Hoegeng kemudian merunut jejak praktik kongkalikong itu. Ia menemukan, ujung-ujungnya adalah Cina Medan. Sedangkan oknum aparat tak lebih sebagai kacungnya. Sebuah kenyataan yang amat memalukan,gumam Hoegeng dengan geram dihalaman 50 buku itu.
Di tangan pria kelahiran Pekalongan ini, para penjudi dan penyelundup tak bisa berkutik. Semua ditangkap, termasuk para backing diproses secara hukum. Sukses di Sumut, Hoegeng mendapat tugas memberantas KKN di Jawatan Imigrasi, lalu menjadi menteri Iuran Negara. Dia pun berhasil menjalankan tugasnya. Lalu dikembalikan ke kepolisian sebagai kapolri menggantikan Soetjipto yang mundur.
Hoegeng dilantik oleh Presiden Soeharto pada 15 Mei 1968. Sebelumnya, Soeharto mengingatkan kepada Hoegeng agar polisi tak memikirkan tugas angkatan lain yang memiliki fungsi tempur. Hendaknya polisi menjalankan tugas sesuai fungsinya, dan jangan ada lagi faksi di kalangan perwira yang membuat persaingan tidak sehat. Hoegeng setuju. Namun, dia juga meminta agar angkatan lain pun tidak mencampuri urusan intern Kepolisian. Soeharto hanya diam. Bahkan hingga berhenti sebagai kapolri, Hoegeng tidak tahu bagaimana sikap Soeharto yang sebenarnya.
Selama Menjadi menjadi kapolri, Hoegeng sangat disiplin. Sebelum jam tujuh pagi sudah datang di kantor. Dari rumah dinasnya di Menteng menuju Mabes Polri di Kebayoran Baru selalu ditempuh dengan rute berbeda. Cara ini dilakukan agar kapolri mengetahui kondisi lalu lintas, termasuk kesiagaan polisi lalu lintasnya. Jika terjadi kemacetan di ja lan, ia tak ragu turun dari ken daraannya mengatur lalu lintas. Hoegeng menjalankan dengan ikhlas, seraya memberi contoh kepada anak buahnya di lapangan.Sebagai pucuk pimpinan Kepolisian, Hoegeng pun dekat dengan masyarakat. Baginya tidak perlu ada gardu penjaga di halaman rumah agar setiap orang tidak merasa takut atau enggan bertamu ke rumahnya. Dia menjadikan rumahnya sebagai rumah komando yang terbuka 24 jam untuk urusan dinas kepolisian.Selama ia menjabat sebagai kapolri ada dua kasus menggemparkan masyarakat. Pertama kasus Sum Kuning, yaitu pemerkosaan terhadap penjual telur, Sumarijem, yang diduga pelakunya anak-anak petinggi teras di Yogyakarta. Ironisnya, korban perkosaan malah dipenjara oleh polisi dengan tuduhan memberi keterangan palsu. Lalu merembet dianggap terlibat kegiatan ilegal PKI. Nuansa rekayasa semakin terang ketika persidangan digelar tertutup. Wartawan yang menulis kasus Sum harus berurusan dengan Dandim 096.
Hoegeng bertindak. Kita tidak gentar menghadapi orangorang gede siapa pun. Kita hanya takut kepada Tuhan Yang Mahaesa. Jadi, walaupun keluarga sendiri, kalau salah tetap kita tindak. Geraklah the sooner the better, tegas Hoegeng di halam an 95.
Kasus lainnya yang menghebohkan adalah penyelundupan mobil-mobil mewah bernilai miliaran rupiah oleh Robby Tjah jadi. Berkat jaminan, pengusaha ini hanya beberapa jam mendekam di tahanan Komdak. Sungguh berkua sanya si penjamin sampai Ke jaksaan Jakarta Raya pun memetieskan kasus ini. Siapakah si penjamin itu?
Tapi, Hoegeng tak gentar. Di kasus penyelundupan mobil mewah berikutnya, Robby tak berkutik. Pejabat yang terbukti menerima sogokan ditahan. Ru mor yang santer, gara-gara membong kar kasus ini pula yang menyebabkan Hoegeng di pensiunkan, 2 Oktober 1971 dari ja batan kapolri. Kasus ini ter nya ta me libatkan sejumlah pe jabat dan perwira tinggi ABRI (hlm 118).
Bayangan banyak orang, memasuki masa pensiun orang pertama di kepolisian pasti menyenangkan. Tinggal menikmati rumah mewah berikut isinya, kendaraan siap pakai. Semua itu diperoleh dari sogokan para peng usaha.
Ternyata masa menyenangkan itu tidak berlaku bagi Hoegeng yang anti disogok. Pria yang pernah dinobatkan sebagai The Man of the Year 1970 ini pensiun tanpa memiliki rumah, kendaraan, maupun barang mewah. Rumah dinas menjadi milik Hoegeng atas pemberian dari Kepolisian. Beberapa kapolda patungan membeli mobil Kingswood, yang kemudian menjadi satu-satunya mobil yang ia miliki.Pengabdian yang penuh dari Pak Hoegeng tentu membawa konsekuensi bagi hidupnya sehari-hari. Pernah dituturkannya sekali waktu, setelah berhenti dari Kepala Polri dan pensiunnya masih diproses, suatu waktu dia tidak tahu apa yang masih dapat dimakan oleh keluarga karena di rumah sudah kehabisan beras.
Itulah sekadar beberapa catatan kenangan untuk Pak Hoegeng yang baru saja meninggalkan kita. Seorang yang hidupnya senantiasa jujur, seorang yang menjadi simbol bagi hidup jujur, dan simbol bagi kejujuran yang hidup. Ada guyonan di masyarakat tentang kejujuran seorang Hoegeng bahwa hanya ada dua polisi yang tidak bisa disuap, yaitu Polisi Hoegeng dan polisi tidur. Berbagai gebrakan internal ataupun ekternal telah dilakukan dalam rangka membersihkan polisi yang melakukan pelanggaran dan “nakal” dan harus berkomitmen menyeret polisi ke pengadilan jika terbukti bersalah. Keberhasilan dalam membersihkan internal kepolisian akan menjadi poin tersendiri dalam meningkatkan kepercayaan masyarakat terhadap kinerja kepolisian.Setiap waktu pula upaya kepolisian untuk mendongkrak citra positif selalu berpacu dengan masalah opini masyarakat akibat dari masalah Markus Gayus Tambunan . Mestinya pelbagai kejadian buruk bisa berkurang, apalagi polisi sudah dilepaskan dari TNI. Pada masa transparansi, akuntabilitas, dan transisi demokrasi, seperti sekarang ini, jajaran kepolisian dituntut untuk bisa membersihkan berbagai masalah, terlebih lagi korupsi di dalam tubuh polisi itu sendiri. Sebagai salah satu institusi yang memiliki peran besar dalam proses pengamanan dan keamanan negara, Kepolisian Negara Republik Indonesia (Polri) harus terus untuk berbenah diri menuju polisi yang profesional.dilema yang dirasakan oleh bhayangkara saat ini adalah satu sisi ingin berubah dan disatu juga masih butuh ”materi” untk kehidupan sehari-hari.Figur seorang pemimpin di tubuh aparat kepolisian di manapun posisinya harus mampu mendorong perbaikan citra polisi secara kualitatif.
Kunci perunbahan terletak pada budaya informal Polisi :perilaku mereka dilapangan seperti budaya 86 ,lapor kambing hilang kandangnya,tidak responsif kalau tidak ada uang bensinya,uang rokok dll.kesimpulannya perilaku yang akan ditanamkan kepada seluruh Anggota Bhayangkara adalah berubahnya karakter pada individu per individu dalam menjalankan tugas dengan pedoman dan figur dari pemimpinnya .supaya bisa merubah budaya informal yang tidak baik dan bisa menjadi agen perubahan POLRI dengan membuat budaya informal yang bernuansa yang baru pada unit yang akan dipimpinnya sehingga dapat meraih hati masyarakat dan memulihkan luka yang telah tertancap lama .

APAPUN yang dikatakan orang,percayalah gagasan dan kata-kata serta tulisan dapat mengubah dunia

Terima Kasih Pak Hoegeng. Perjuangan hidupmu tidak akan sia-sia

Senin, 20 Juli 2009

PENANTIAN KELAHIRAN ANAK KEDUA

PENANTIAN KELAHIRAN ANAKKU KEDUA

Sepanjang bulan Juni-Juli 2009 ini aku sungguh terasa melelahkan. Dari tanggal 24 Juni, seminggu kemudian, dan seminggu kemudian, selama tiga minggu aku tiga kali pergi pulang ke Lampung, tepatnya di Metro-Lampung Tengah.

Keberangkatan pertama dari Bekasi aku dan istriku ke Lampung dengan kendaraan umum, mengingat nggak mungkin lagi untuk naik motor berdua, karena usia kandungan istriku sudah menginjak ke sembilan bulan.

Minggu kedua aku berangkat sendiri ke Lampung dengan sepeda motor, agak capek tapi menikmati perjalanan ke Lampung itu.

Minggu ke tiga perjalanan bersama Yoyon dan Utami, dengan sepeda motor juga. Namun, sepertinya badanku protes, karena ada yang tidak beres pada badanku. Mungkin karena seringnya terkena getaran di atas motor dan perjalanan yang cukup lama 11 sampai 12 jam diselingi istirahat di kapal ferry, penyeberangan Selat Sunda. Perjalanan ketiga ini, keberangkatan darti Punggur - Metro jam 09.00 dan sampai di Bekasi rumah jam 20.30 WIB.

Rabu, 06 Mei 2009

PERTEMUAN GURU AGAMA KATOLIK DI BOGOR

DEPAG membidani pertemuan guru PAK DKI

Tanggal 2 sampai 4 Mei 2009 ada sekitar 35 guru agama Katolik di sekitar DKI mengadakan pertemuan di WIsma Kinasih - Remboken Cimanggis Depok - Bogor.

Pertemuan dengan tema Pembinaan Guru-Guru Agama Katolik itu diprakarsai oleh Departemen Agama DKI, yang berperan sebagai pengundang adalah Bapak Drs. AH. Yuniadi, MM.

Hari Pertama, 2 Mei 2009

Bertepatan dengan UAS kursus bahasa Inggris, tanggal 2 Mei 2009 aku harus mengikuti pertemuan guru-guru Agama Katolik se-DKI Jakarta. Aku berangkat pukul 11.00 dengan perjalanan lancar, sedikit pelan karena sambil mencari lokasi pertemuan, akhirnya aku sampai di Wisma Remboken jam 13.00. Baru 2 orang yang datang. Aku beristirahat, sambil menunggu teman yang lain. Di situlah aku bertemu dengan kakak tingkat dulu waktu aku kuliah di Fakultas Filsafat UNIKA St. Thomas Sumatera Utara, Victor Halomoan Habeahan. Nampak cekung wajahnya, menampakkan keaslian orang Batak.
Kegiatan hari pertama dimulai jam 16.30 dengan pembukaan resmi oleh Pak Yuni, dengan berseragam batik asli kahs Indonesia. Kami sempat photo bersama. Acara setelah makan malam adalah sajian dari sekjen Kanwil Depag DKI, Bapak Antonius.
Malam itu sekaligus dibentuk 4 kelompok untuk kelancaran tugas doa dan diskusi. Acara malam ditutup dengan doa oleh kelompok I.

Hari Kedua, 3 Mei 2009

Minggu pagi ini kami bangun jam 06.00. Setelah doa dan sarapan pagi, acara diisi oleh Pak Yuni dengan isi Sosialisasi Sertifikasi Guru Agama. Banyak hal yang kami dapatkan berkaitan dengan sertifikasi ini. Acara selesai sampai siang dan diakhiri dengan makan siang bersama.
Acara sore mulai pukul 16.30 dengan diskusi kelompok, dengan menjawab tiga pertanyaan: 1. tentang kendala-kendala yang dialami sebagai guru agama, 2. tentang kemudahan yang didapat sebagai guru agama, dan 3. tentang saran, usul, masukan bagi DEPAG.
Acara selanjutnya adalah misa dipimpin oleh Rm. Hardijantan Dermawan dari KAJ dilanjutkan dengan makan bersama. Setelah makan bersama kegiatan diisi oleh penyajian Rm. HArdi berkaitan Kebijakan Pastoral KAJ terhadap Guru Agama Katolik.
Acara malam itu ditutup dengan doa.

Hari ketiga, 4 Mei 2009

Minggu pagi ini kami bangun jam 06.30. Setelah doa dan sarapan pagi, acara diisi oleh Rm. Driyanto dari KeBo (Keuskupan Bogor) mantan dosen saya dulu di Seminari Menengah Stella Maris - Bogor. Penyajian perkenalan dari Rm. Dri menarik sehingga waktu yang ditetapkan dimakan lumat lebih 30 menit, sehingga acara snack molor. Acara dilanjutkan dengan isi tetang Panggilan Sebagai Guru Agama Katolik. Guru Agama Katolik menurut Romo Dri merupakan ujung tombak pewartaan terhadap umat. Mengapa ujung tombak? Karena guru agama tinggal di tengah masyarakat yang majemuk dan hiterogen, namun tetap dapat memfusi dan masuk pelan-pelan sambil mewartakan Injil melalui kehidupan sehari-hari. Sedangkan kaum klerus dan orang yang mengabdikan diri pada Gereja (Lembaga Hidup Bakti = para suster/bruder) tidak dengan mudah bisa mewartakan imannya di tengah masyarakat hiterogen. Rm. Dri memberikan contoh sebuah kasus : ada seorang suster dengan berpakaian jubah mendirikan tempat kursus (menjahit dan memasak) di sebuah desa di Bogor. Banyak orang yang datang, karena memang berminat. Namun, lama-kelamaan karena masyarakat sekitar tahu bahwa suster itu seorang kristen, suster itu diusir dan tidak boleh tinggal di desa itu dengan dalih pengkristenan.
Hal yang menarik. Kaum awam, guru agama tetap tinggal di tengah masyarakat, namun tetap memberi kesaksian hidup kristiani. Lalu, yang menjadi "pastor" sebenarnya ini apakah pastor yang tinggal di pastoran atau awan sebagai guru agama Katolik?

Refleksi hidup untuk kita:
Mantapkanlah hidupmu sebagau Guru Agama Katolik. Yakinlah bahwa yang Anda buat itu suatu yang baru dan inovatif. Mantap dan banggalah sebagai guru agama Katolik, karena tidak semua umat awam Katolik tidak bisa untuk itu.

Acara ditutup dengan perayaan ekaristi. Dan terakhir adalah makan siang.
Pertemuan berlangsung lancar dan pulang jam 14.00 hari Senin tanggal 4 Mei 2009.

PERNIKAHAN 25 APRIL 2009

Pernikahan adikku, Rini

Setiap orang sejak lahir telah memiliki hak. Hak itu biasanya lebih dikenal dengan istilah Hak Asasi Manusia. Hak asasi itu tak seorangpun berhak mengambil, apalagi merampasnya. Hak itu misalnya : hak untuk hidup (sehingga tak seorang pun boleh menggugurkan kandungan/aborsi), hak mendapatkan pekerjaan yang layak, hak untuk mendapat perlindungan hukum, hak mendapat pendidikan, hak akan kasih sayang dari orang tua, dan lebih-lebih hak untuk menikah dan hak untuk tidak menikah (selibat), sehingga tak seorang pun berhak untuk memaksa seseorang untuk menikah atau tidak menikah.

Adikku akan menikah tanggal 25 April 2009. Hari Selasa sebelumnya aku dan istriku sore-sore dengan diiringi hujan yang lebat berangkat dari rumah dengan tujuan Bekasi Timur, pol bus Rosalia Indah. Namun, apa yang terjadi dan sangat disayangkan loket bus sudah tutup. Akhirnya kami ke pol bus Maju LaAncar, di depan BTC BeEkasi Timur. Langsung saja aku pesan satu tiket untuk pulang ke Wonosari, dengan harga 1 tiket AC PATAS Rp 115.000,00.

Tibalah hari Jum'at, tanggal 24 April 2009. Aku meliburkan diri dari tugas sekolah. Dari pagi kupersiapkan. Siangnya dengan diantar temanku Willy aku pergi ke pol bus Maju Lancar. Bus datang jam 14.30, bukan patas tetapi AC Eksekutif. Oleh sopirnya aku dirayu nih... agar aku ikut busnya, lalu kutanya nomor berapa? Aku diberi nomor 10, dibagian kiri. Oke lah. Dengan syarat menambah Rp 10.000,00. Kami sepakat. Sebelum naik aku mengecek karcis. Jam 16.00 bus baru berangkat. Lewat tol Timur masuk tol Cikampek, ikut jalan Pantura dan sampai kira-kira jam 19.00 sampai di rumah makan.

Istirahat pertama bus di Pamanukan. Aku makan nasi rames, karena hanya berbekal air minum, biskuit, dan beberapa butir buah salak. Istirahat kedua di rumah makan Jakarta - Karanganyar - Kebumen, jam 00.30. Bekal inipun awet sampai di Gading Wonosari.

Pagi itu aku sampai di Gading jam 05.00. Dengan mengojek salah seorang teman yang kukenal, akhirnya sampailah aku di rumah. Di rumah sudah banyak orang, dan sudah pada bangun, karena bersiap-siap untuk perayaan ekaristi. Untuk pertama kalinya aku berjumpa dengan Pak Lik Musdi. Berjumpa pula dengan keluarga besar Charli dari Tanjung Priok - Jakarta.

Pagi pukul 08.00 aku telepon nduk Prima di Lampung. Ibu pun sempat erbincang dengan bapak di Lampung. Kami semua bersiap-siap untuk berangkat ke gereja St. Yusup Bandung dengan menggunakan tiga mobil. Perjalanan lancar, sampai di gereja. Lalu tidak lama kemudian misa dimulai dengan dipimpin oleh Rm. Yuni.
Perjalanan dari gereja pun lancar dan sampai di rumah sudah hadir bebrapa tamu yang akan menyambut pengantin. Rini dan Charli sudah resmi menjadi suami istri dan keluarga yang baru.

Aku mesti menginap satu malam di rumah Wonosari. Hari minggu aku siap-siap dengan Agung dan Ning untuk kembali ke Bekasi, dengan membeli tiket bus Rosalia Indah @ Rp 135.000,00. Singkat kata kami sudah menunggu bus di Gading. Perjalanan melalui ring road selatan, terminal bus Giwangan - Jogja, ring road barat, bahkan sampai di terminal Jombor, lalu tembus di termial Purworejo. Bus istirahat di rumah maka Lestari Karang anyar - Kebumen. Mendapat makan gratis alias dibelikan oleh pihak bus dengan uang sendiri dari penumpang.

Sampai di jalan Pantura lalu lintas padat, macet disebabkan oleh jalan yang sedang diperbaiki. Sampai di pol bus di Bekasi Timur pukul 04.30, langsung saja aku panggil seorang ojek untuk mengantar aku pulang. Sepakat dengan harga Rp 25.000. Namun perjalanan ojek kira-kira hanya 10 menit aku diantar sampai di rumah. Akhirnya tukang ojek kukasih Rp 30.000,00. Langsung saja kau bongkar-bongkar tas, lalu mandi tanpa saraan segera berangkat ke sekolah dengan istriku.

Perjalanan hidup manusia merupakan sebuah peziarahan.

RETRET KELAS V SD ASISI

RETRET KELAS V SD ASISI

Perjalanan hidup manusia merupakan sebuah peziarahan, bila dilihat dari sudut iman kristiani. Perjalanan manusia yang dilaksanakan sebagai sebuah rutinitas memerlukan sebuah etape atau stasi untuk berhenti dari aktivitas semula. Ibarat mengadakan seminar kita perlu break time. Atau dalam berdiskusi kita memerlukan adanya termin, jeda waktu untuk menghela nafas sejenak, istirahat dari kejenuhan aau rasa capai yang mendera. Sebagaimana halnya agenda tahunan Sekolah Dasar Asisi, maka bulan April 2009 ini secara berturut-turut selama 3 minggu aku relay-tour untuk tugas sekolah. 2 kali minggu untuk sekolah 1 minggu untuk keluarga.

Tanggal 18 sampai 20 April 2009 aku bersama Pak Gito dan Bu Tini mendampingi anak untuk menjalani retret selama 3 hari di Wisma Retret Canossa Bintaro. Pengalaman baru bagiku. Pendampingan anak-anak sebanyak 37 anak tidaklah sesederhana kalau kita pernah hidup di asrama yang nota bene seminari. Anaka-anak ini belum tahu artinya tertib, hening atau disiplin, artinya menempatkan waktu sesuai dengan porsinya.

Perjalanan dari SD Asisi lancar sampai di Canossa, dengan diantar oleh sopir yang menyetir sebuah bus. Perjalanan dari Tebet langsung masuk Tol Tebet, melalui Pancoran. Sampai Cawang bus langsung masuk jalur tol Jagorawi, dengan mengambil jalur tol TB Simatupang. Sesampai di gerbang tol Pondok Aren bus keluar tol. Rupanya sang sopir sudah hafal dengan rute tersebut.
Kami serombongan diterima oleh suster pengelola rumah retret. Selanjutnya pembagian kamar yang sudah dibagi pihak rumah retret. Perjalanan sedemikian lancar. Banyak permainan yang diberikan, banyak pengetahuan untuk melatih kerja sama di antara para siswa SD, khususnya waktu outbond.
Hari kedua, hari Minggu diawali dengan kegiatan ke gereja St. Matius Bintaro sampai jam 08.00 aktivitas dimulai lagi. Hari ini fokusnya adalah out bond. Ada beberapa tipe untuk melatih kekompakan anak, misalnya:

1). Anak-anak dilatih untuk bekerjasama dalam memindahkan bola dengan menggunakan 4 benang, dimana masing-masing anak memegang ujung benang. Setelah benang berhasil menjepit bola itu, anak secara bersamaan harus menggeser bola danmemasukkannya di tempat yang telah disediakan.
2) Anak diminta untuk membuat jembatan bambu. Secara berpasangan anak memegang bambu yang kemudian salah seorang anak berusaha melewatinya. Bambu yang paling belakang, yang telah dilewati lalu berpindah ke depan. Dan demikian seterusnya sampai anak yang melalui bambu itu sampai di tujuannya.
3. Masing-masing anak memegang bambu kecil yang telah disediakan, berukuran panjang 30 cm. Tugas kelompok adalah menggeser ember berisi air di atas papan bambu yang melintang setinggi 2 meter. Bambu yang dipakai harus menyangga sayap ember. Jika salah satu bambu terlalu kuat menyangga maka ember akan miring, dan tidak tertutup kemungkinan bahwa air di dalam ember akan mengguyur anak sampai basah kuyup. Perlu kejelian. Sesampai ember di ujung lintasan, ember harus digeser ke tempat semua dengan cara yang sama. Perlu waktu yang cepat atau cekatan dan ketelitian.
4). Sekolompok anak diikat dengan kain. Disediakan 15 bola plastik di ujung lapangan. antara start dan finish berjarak kira-kira 10 meter. Cara pengambilan bola harus jongkok. Setelah seorang anak mengambil bola plastik, lalu bola itu diberikan kepada teman yang ada di belakangnya. Perjalanan anak yang diikat menjadi satu itu harus kompak, kalau tidak kompak ada kemungkinan kelompok itu akan jatuh, dan jatuh semuanya. Perlu kekompakan.

Pertobatan

Malam Senin, malam tanggal 20 April sebagai ibadat penutup diadakan ibadat pertobatan. Dalam hal ini anak-anak diajak untuk mengenang kembali bagaimana perjalanan hidupnya selama ini. Bagaimana ia bersikap di dalam keluarga: dengan adik, kakak, mama, papa, kakek, nenek, dengan satpam pribadinya, atau bahkan dengan pembantu sekalipun. Dengan bahasa pengantar dan musik yang menyentuh kalbu, anak digiring kepada situasi yang membuat hati dan diri anak menjadi kecil di hadapan Tuhan. Tisue disiapkan....
Pertobatan walaupun sekejap, namun membuat anak untuk sadar. Sadar akan dirinya dan lingkungan di sekitarnya. Sadar bahwa ia memelrukan orang lain, yang pernah ia sakiti atau ia benci. Dengan pertobatan ini, anak akan mengalami bahwa ia merasa dicintai oleh teman-temannya, guru, orang tuanya masing-masing.

Hari Senin, anak-anak mulai beraktivitas dengan membuat surat pribadinya yang ditujukan kepada orang tua masing-masing. Surat... merupakan sarana komunikasi yang dulu pernah berjaya, namun keberadaannya sekarangmulai tergeser dengan canggihnya alat elektronik, misalnya karena ada telepon genggam, email, faceboook, blogg, atau messenger atau catthing.

Pengalaman hidup selama retret mengarahakan anak agar ikut berbela rasa dengan sesama yang kekurangan. Anak dilatih untuk bertanggung jawab dalam hal : Makan, makanan harus dihabiskan. Saat makan tidak boleh sambil berbicara. Menghormati makanan apapun itu.
Semoga dengan penyadaran sesaat ini membuat pengalaman anak bertambah, untuk ikut berbela rasa dengan teman-teman yang berkekurangan.